Rabu, 29 September 2010

Iman Yang Bertumbuh

(Yohanes 3:1-2)
Siapakah Nikodemus?
Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi, dia adalah seorang Farisi yang taat. Arti nama ’Nikodemus’ adalah: penakluk, pemenang, yang merebut hati rakyat. Dari arti namanya saja sudah terlihat bagaimana ’posisi’ Nikodemus di masyarakat Yahudi saat itu. Dia adalah seorang tokoh yang terpandang, dikagumi, dan dihormati. Sekalipun mempunyai posisi yang tinggi di tengah masyarakat ia, tidak sombong, ia rendah hati dan selalu berusaha untuk mencari kebenaran. Ia tidak mudah untuk mempercayai sesuatu hal yang terjadi tanpa menyelidiki dan mempelajarinya terlebih dahulu. Sebagai seorang pemimpin agama Yahudi, ia mempunyai sikap yang berbeda dari kebanyak pemimpin pada masa itu. Nikodemus terbuka dengan apa yang Yesus sampaikan. Keterbukaannya inilah yang membuat dia akhirnya menemui Yesus dan berdialog. Langkah berbeda yang diambil Nikodemus itu justru menuntun imannya kepada Yesus. Bukti2 yang menunjukkan iman Nikodemus bertumbuh yaitu:

Datang menemui Yesus.
Tentu karena alasan-alasan manusiawi berkaitan dengan posisi dan jabatan yang disandangnya pada waktu itu. Ia adalah seorang guru agama Yahudi, itu berarti dia punya banyak murid dan pengikut. Dan kita ketahui dengan jelas bahwa orang2 Yahudi tidak suka dengan kehadiran Yesus dan ajaran2Nya. Jadi dapat kita katakan bahwa Nikodemus menghindar dari orang banyak untuk dapat bertemu dengan Yesus. Maka dari itu, suasana malam hari paling cocok untuk dapat berbicara banyak hal dengan Yesus.
Tidak bisa disangkali bahwa Secara pribadi, Nikodemus pasti merasakan suatuketertarikan dengan apa yang telah didengarnya dari orang-orang tentang segala hal yang diperbuat Yesus! Dia pasti telah mengetahui bagaimana Yesus mengadakan mujizat saat pesta nikah di Kana tentang air menjadi anggur, juga tanda-tanda lain yang telah Yesus nyatakan. Dia tidak hanya mendengar saja namun juga mengadakan survey/pengamatan secara mendalam, terbukti dengan pernyataannya, ”...kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." (Yohanes 3:2) Sekalipun demikian, Nikodemus belum berani mengambil resiko untuk menerima status sebagai ’murid Yesus’ dan menyatakannya secara terbuka. Itu sebabnya dia mendatangi Yesus secara diam-diam pada malam hari. Ini karena posisinya sebagai seorang guru. Ia bisa dibenci dan dianggap berkhianat oleh para pemimpin agama yahudi jika langsung menjadi murid Yesus. Sebagai seorang guru tentu Nikodemus adalah orang yang bijaksana di dalam bertindak. Ia tidak terburu-buru, tetapi sungguh menanti waktu yang tepat untuk membuktikan iman percayanya kepada Tuhan Yesus.
Perjumpaan secara rahasia malam itu sangat berkesan bagi Nikodemus. Dia menjadi pribadi yang tergugah untuk terus ’mencari jawaban’ dari ayat-ayat dalam Alkitab (pada waktu itu hanya ada Perjanjian Lama)! Walaupun dalam praktiknya dia belum berani menjadi ’murid Yesus’ secara resmi dan terang-terangan, kata-kata dan jawaban Yesus telah merubah kehidupannya. Tuhan ingin agar dengan paradigma baru yang diperolehnya melalui ’lahir baru’, Nikodemus boleh menyampaikan keselamatan kekal dalam Tuhan Yesus Kristus kepada orang-orang lain, terutama kepada rekan-rekan sebangsanya. Inilah maksud sebenarnya Yesus menyampaikan kalimat Yohanes 3:16 kepada Nikodemus.
Tidak ada catatan khusus dalam Alkitab tentang perjalanan iman Nikodemus setelah dia meninggalkan Tuhan Yesus pada malam itu. Namun dalam dua poin selanjutnya tentang Nikodemus ini, kita diyakinkan bahwa dialog yang dilakukannya bersama Yesus malam itu sangat mempengaruhi kehidupan-nya dan berperan penting dalam menentukan langkah hidupnya di kemudian hari.
Saudara apa yang membuat kita datang menemui Tuhan Yesus? Jawabannya adalah karena kita ingin Tuhan melawat hidup kita, karena kita ingin menyembah Dia, karena kita ingin mendengar sabdaNya berbicara kepada kita secara pribadi. Imanlah yang membuat kita rindu untuk datang menghampiri hadirat Tuhan. Kita meninggalkan segala macam kesibukan, pekerjaan, dan berbagai macam kesenangan hanya untuk bersekutu dengan Tuhan Yesus. Satu hal yang sangat pasti bahwa perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan Yesus, itu akan mempengaruhi hidup kita. Dan bisa dikatakan bahwa itulah babak baru di dalam kehidupan kita. Ada seorang pemuda bernama Agustinus, ia seorang pemuda berandalan. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat beriman dan takut dengan Tuhan dan hidup di dalam ajaran agama yang taat. Tetapi sayangnya hal itu tidak ada di dalam diri Agustinus. Masa mudanya banyak dihabiskan dengan seks bebas, sampai ia kemudia mempunyai anak dari hubungannya. 
Agustinus merupakan anak yang paling populer dari keempat anak Monica. Agustinus termasuk salah seorang genius yang pernah lahir ke dunia ini. Dia dibesarkan secara Kristiani oleh ibunya, namun pada masa-masa remaja dan awal masa dewasa ia menyimpang dari ajaran yang benar dan mengikuti seleranya sendiri. Ia jatuh pada penyembahan. Hidupnya menjadi gelap dan ia menikmati itu. Ia senang dengan cara hidup yang gelap tersebut. Di samping sangat menyenangi cara hidup yang tak bermoral, ia juga begitu sombong dengan kepintarannya.
Ibunya begitu sedih dengan kenyataan tersebut. Namanya selalu hadir dalam doa ibunya. Monica tak bosan-bosannya berdoa untuk pertobatan anak kesayangannya tersebut. Ia bahkan rela bermati raga demi pertobatan Agustinus. Akhirnya doanya dikabulkan. Agustinus bertobat. Ia menyadari bahwa ajaran Kristenlah ajaran yang benar, tak ada yang lain. Tak lama setelah menjadi Uskup, Agustinus dengan sukses membawa kembali banyak orang yang sempat tersesat kembali ke ajaran yang benar. Ia berhasil membawa orang kembali ke pangkuan Gereja, tubuh mistik Kristus. Agustinus juga begitu terlibat mempertahankan ajaran Gereja dari para pembangkang. Ia berjuang menjaga kemurnian ajaran yang benar. Ia ikut melawan ajaran Donatist, Pelagian, dan Arian (kelompok-kelompok tersesat).

Berani Membela Yesus di depan umum
Saat Yesus akan ditangkap oleh imam-imam dan orang-orang Farisi, Nikodemus muncul memberikan pembelaan kepada Yesus (Yohanes 7:41-44, 50-52). Tindakannya ini bukan tanpa tantangan karena dia ditantang oleh teman-temannya untuk melakukan pemeriksaan di dalam ayat-ayat kitab suci untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah seorang nabi, apalagi sebagai Mesias (Kristus). Rupanya dalam kalangan imam-imam dan orang-orang Farisi pun terjadi perdebatan dan perpecahan terkait dengan hal menentukan ’siapakah Yesus’.

Pasti Nikodemus telah menyelidiki ayat-ayat kitab suci sesuai arahan Yesus pada malam itu sehingga dia mulai berani membela Yesus di depan umum. Itu sebabnya dia yakin secara pribadi bahwa Yesus bukanlah Orang yang dapat dihukum tanpa ditanyai terlebih dahulu apa jawaban-Nya. Seperti Nikodemus pada waktu lampau, teman-temannya hanya melihat Yesus sebagai seorang manusia biasa dan ini yang menyebabkan timbulnya perbantahan. Atas tantangan teman-temannya tersebut, Nikodemus pasti kembali menyelidiki kitab suci secara utuh. Tuhan ingin agar kita menyelidiki Alkitab secara utuh.

Kita percaya bahwa Nikodemus akhirnya semakin yakin bahwa Yesus adalah Mesias setelah dia menyelidiki kitab suci secara utuh. Dia pasti menemukan bukti bahwa Yesus dilahirkan di kota Betlehem sesuai dengan nubuatan firman Tuhan. Memang saat itu hanya para gembala yang menyaksikan kelahiran-Nya. Sekitar dua tahun kemudian orang-orang Majus juga menjumpai Anak Yesus dan menyembah-Nya. Dan setelah itu Yesus dibesarkan di kota Nazaret, daerah Galilea. Faktor ke-nabi-an Yesus dikaitkan dengan kota di mana Dia dibesarkan inilah yang menjadi pemicu teman-teman Nikodemus membenci Yesus!
Namun Nikodemus telah berubah; dia bukan lagi pribadi yang diam-diam menjumpai Yesus tetapi mulai menyatakan pendapat dan pembelaannya terhadap Yesus secara nyata walaupun saat itu dia masih belum berani menyatakan pribadi Yesus yang sesungguhnya, yaitu Anak Allah, Juruselamat umat manusia. Apa yang kita lakukan saat kita melihat orang-orang di sekitar kita melakukan tindakan yang memusuhi/membenci pribadi Yesus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juruselamat umat manusia? Apakah kita ’berdiam diri’ demi keamanan kita atau kita melakukan suatu ’pembelaan’ demi nama Tuhan seperti yang dilakukan Nikodemus?
Saudara bagaimana dengan kehidupan kita, ketika kita sudah beriman kepada Yesus, maka mau tidak mau tuntuntannya adalah kita harus berani mengakui Yesus di hadapan orang banyak. Mungkin ada keluarga kita yang belum percaya kepada Tuhan Yesus, ketika kita berkumpul dengan mereka mampukah kita bersikap seperti Nikodemus yang terang-terangan menyatakan imannya. Tetapi satu hal yang pasti kita harus sungguh melakukannya dengan hikmat Tuhan.

Mengurus kematian Yesus
Coba renungkan sebentar apa yang tertulis dalam Yohanes 19:38-42. Di manakah Petrus yang menyatakan ’rela mati bersama Yesus’? Juga Andreas, Filipus, dan murid-murid lainnya pada saat itu? Mereka tidak ada! Mereka melarikan diri saat Yesus mengalami proses kematian di kayu salib! Saat salib dinyatakan, bukankah seringkali umat Kristiani malah menyembunyikan diri karena takut sakit ’daging’-nya? Saat Yesus mati di atas kayu Salib, justru dua orang murid-Nya yang sebelumnya tidak mau menyatakan diri secara terang-terangan malah dengan berani menampilkan diri untuk mengambil mayat Yesus, mengafaninya, membubuhinya dengan rempah-rempah, dan menguburkannya. Nikodemus tampil dengan memberikan rempah-rempah untuk me-laksanakan ’proses’penguburan Yesus sesuai dengan adat orang Yahudi. Murid Yesus lainnya adalah Yusuf dari Arimatea, seorang yang berkedudukan pada waktu itu. Yusuf dari Arimatea inilah yang meminta kepada pemerintah waktu itu untuk diberi ijin menurunkan mayat Yesus!
Mereka tidak banyak menghabiskan waktu untuk bersama dengan Yesus, tetapi kemudia merekalah yang mengurus penguburan Yesus. Mereka berkorban secara materi untuk mempersiapkan rempah untuk pemakanam Yesus. Imannya kepada Yesus membuat Nikodemus selalu ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhannya. Salib Kristus telah membuat mereka berani menyatakan diri sebagai pengikut Kristus. Bagaimana dengan praktik hidup kita sebagai ’murid Yesus’? Apakah kita berani tampil seperti Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea? Tampil pada saat Yesus dikaitkan dengan ’salib’, dengan ’kematian-Nya’ dan dengan ’korban-Nya’?
Tuhan telah menyatakan cinta kasih-Nya kepada Nikodemus tanpa memedulikan ’latar belakang’ atau ’bagaimana cara’ Nikodemus datang kepada-Nya. Semua jawaban Tuhan Yesus telah menjadi ’Pekerjaan Rumah (PR)’ bagi Nikodemus untuk direnungkan dan dicari jawabannya pada ayat-ayat Kitab Suci hingga pada kisah berikutnya, Nikodemus berani ’tampil’ untuk membela pribadi Yesus (yang dia tahu dan yakin Tuhan Yesus tidak bersalah) serta melakukan penghargaan atas korban-Nya di atas kayu salib.
Akhirnya kita dapat melihat dari waktu ke waktu iman Nikodemus semakin bertumbuh dan ia semakin membuktikan dirinya sungguh2 mencintai Tuhan Yesus. Saudara bagaimana dengan hidup kita? Sudahkah iman kita juga semakin hari semakin bertambah dan semakin  mencintai serta mengutamakan Yesus di dalam hidup kita?? Mari kita jawab pertanyaan ini di dalam hati kita masing2.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar